Review Buku: Luka Cita by Valerie Patkar

Review Buku: Luka Cita by Valerie Patkar
Review Buku: Luka Cita by Valerie Patkar

Javier dengan kamera analognya, Utara dan papan caturnya, sama-sama hitam dan putih. 

Kedua manusia ini berada di titik lemah, menyerah pada cita-citanya. Mereka berpaling bukan karena tidak suka lagi dengan cita-cita itu, melainkan terluka di tengah jalan, terseok-seok dan ketika sampai di puncak, semua terasa hampa, kosong.

"I treasure my self more than anything."

Kalimat yang sangat berkesan buatku dari novel ini, muncul berkali-kali di beberapa bab, juga jadi prinsip seorang Javier Sjahlendra. Aku jadi mikir ulang tentang bagaimana aku bersikap ke diri sendiri, dan menilik kembali rasa percaya aku pada kemampuan diri.

"Kalau kamu suka lakuin sesuatu, ada baiknya ndak usah berharap apapun toh? Kalau kamu ngarep nanti kamu jadi ndak suka ngelakuinnya lagi." 

Dialog yang jleb banget di hati, kadang alasan untuk menggapai sesuatu tuh gak perlu muluk-muluk, sesederhana membahagiakan diri sendiri aja udah cukup.

Kekuatan emosi Luka Cita dalam banget, pertengahan buku hingga akhir rasanya dibuat lambat dengan kesan mellow hingga kamu bisa menyelemi setiap perasaan karakternya.

Kamu yang lagi jenuh dan kurang semangat dengan mimpimu, boleh rehat dan baca buku ini. Oiya ada beberapa adegan romance eksplisit yang agak kurang srek di aku sih. ✌️

Salam buat Pak Har, tokoh favoritku, dia selalu bijak, santai dan nyeni. ^^

Kamu yang pengin baca, bisa banget beli di sini, 100 original: Luka Cita BPI 

Posting Komentar untuk "Review Buku: Luka Cita by Valerie Patkar"